Kamis, 22 Desember 2011

Ibu

Selamat Pagi dunia,
Hari ini adalah Hari Special, untuk seseorang yang ter-special di hidupku, Hari Ibu.


Ya, hari adalah hari ibu.
Ketika aku terbangun dari tidur, langsung terdengar suara di radio, 

"oo bunda, ada dan tiada dirimu, akan selalu ada di dalam hatiku .."

Seketika itu, aku sadar hari ini Hari Ibu.
Dan detik itu juga, muncul skema-skema di atas ubunku. Tentang A, tentang B, tentang C, dan semua abjad tersusun rapi di atas sana. Namun satu yang jelas kubaca. 
"Apa yang harus ku berikan di hari ini??" 
Jika di tanya bingung, ya, aku bingung sangat bingung. Lalu aku keluar ambil air wudlu. Dan entah kenapa, aku memainkan kaca yang ada di hadapanku. Dan tak sengaja pula ku keluarkan nafasku, hingga tersusunlah butiran uap yang menempel di dinding kaca itu, buramkan bayang. Hingga pada akhirnya ku tarik nafas panjang sekali lagi, dan ku arahkan ke arah kaca, lantas aku tulis tiga huruf besar di atasnya, I B U . Ku gambar pula skema "aku" dan "ibuku", dengan gambaran anak TK, yang membuatnya dengan lingkaran dan garis saja. Namun anehnya, rasa itu lebih membingungkan daripada mengerjakan Matematika. Entahlah.




Dari perjalanan wudluku itu tadi aku menemukan bola lampu yang menyala di atas ubunku.
Ya, aku dapat ide.
Lantas ku lanjutkan sholatku.


Ku pandangi lantai kamarku yang dipenuhi kertas-kertas yang berserakan, bekas serakan diaryku yang ku buka-buka tadi malam - belum sempat ku bereskan. Dari situ pula muncul ide.


Idenya adalah,
Surat Karikatur. yang berjudul, " Untuk I B U ".




Ya..ya.
Aku cukup sadar akan aku yang menyayangi ibuku lebih dari hidupku, namun satu kendalaku. Aku selalu merasa malu mengungkapkannya langsung.
Ya! itu memang aku!


Maka dari itu, aku memutuskan untuk membuat Surat Karikatur. 
Tulisan yang tertulis di dalamnya, itu sudah bisa menyampaikan isi hatiku.
Gambar yang terlukis apa adanya itu, sudah bisa pula menggambarkan sosok Aku Ibuku dan Perasaanku.
Dan kurasa itu semua perpaduan yang pas.


Tidak perlu tau isi surat tersebut seperti apa. Anda adalah anak, jadi pasti anda tau apa yang saya tuliskan. Namun yang pasti itu dari aku, untuk ibu.








Dan disini, yang terpenting adalah diri kamu.
Bukan yang lain-lain, Dirimu.


Bukan seberapa mahal barang yang kamu beli kok, dan bukan seberapa berharganya barang itu, dan bukan pula seberapa bermanfaatnya barang itu untuk ibumu. Bukan!

Yang terpenting disini adalah kamu.


Bagaimana kamu memikirkan hadiah untuk ibumu
Bagaimana kamu membuat hadiah untuk ibumu
Bagaimana kamu mengemas hadiah itu untuk ibumu
Bagaimana kamu memberikan hadiah itu untuk ibumu
Bagaimana kamu mengucapkan " Selamat Hari Ibu, Ma.."

Dan yang terpenting adalah kamu. Cara kamu.
Bukan bendanya..





Kalau aku, 
Saat mau berangkat sekolah, aku siapin mental dan belajar ngomong depan kaca, ku siapin suratnya, ambil bolpoint, helm plus kunci, dan bersiap berangkat sekolah tentunya. 
Lalu kubuka kamar itu perlahan, nyyiiiitttt.. . , lalu ku langkahkan kaki. Ku buka selambu, ternyata ia masih duduk bersila, bersembahyang. Aku tunggu. LALU, karna terlalu lama, akhirnya aku duduk bersila di sampingnya. Aku ikut tertunduk. Berdoa. Untuk dia.
Ibuku selesai. Dia tatap wajahku dengan senyumnya. Ku pecahkan suasana dengan kata, dan senyum terindahku tentunya, " Selamat Hari I B U .. :) " dan langsung ku raih tangan ibuku, salim, dan ku berikan surat itu. "apa ini nak?" tanya ibu kembali dengan senyum hangatnya. Lantas ku balas dengan senyum terindahku pula, "ini buat mama". 
Secepat kilat aku berpamitan berangkat sekolah, karna ku tau ini sudah pasti terlambat. Ku kecup keningnya dan, "assalamualaikum..." .

Ya, tebakan anda benar. 
Aku masih gugup.
Dan sebenarnya aku tak peduli dengan terlambat atau tidak.
Aku hanya gugup, dan tak sanggup menahan sekatan di ujung pelupuk ini.




Namun perlu anda tau, bahwa pada saat itu semua, aku menahan tetes airmata, yang dengan sengaja ku sekat sekuat tenaga, agar dia tak tau aku meneteskan juga. Juga? ya, juga. Dia juga sudah menetes. Dan disetiap kata yang diucapkannya bagiku adalah cakrawala senja yang menentramkan kerikil-kerikil di sudut jiwa.. Sungguh, sejujurnya aku tak tahan.




Ya...
Itulah hadiah pertamaku selama 15tahun ini aku hidup, dan memeringati Hari Ibu, untuk pertama kalinya aku merasakan yang begitu dahsyat sekaligus menentramkan seperti saat-saat aku mengucupkan, " Selamat Hari I B U, Ma.. " .
Amazing!






Singkat cerita,
itulah pengalamanku, untuk ibuku.


Bagaimana denganmu? :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar